Sekolah Montessori – Metode Sekolah Montessori

Sekolah Montessori mempunyai metode pembelajaran yang berbeda dari metode konvensional. Sekolah Montessori menggunakan metode pengajaran anak dari mulai bayi hingga tumbuh kembang mencapai usia sekolah kelas 12 dengan metoda dan cara-cara serta mempergunakan materials atau alat-alat khusus yang ditemukan oleh Dr. Maria Montessori, dokter, guru serta pendidik berkebangsaan Itali.

Sebagian besar orang tua merasa tertarik untuk mempercayakan anak-anak mereka ke sekolah dengan menggunakan metoda Montessori ini sebab:

  1. Filosofi bahwa anak adalah individu yang unik dan mempunyai talenta serta cara kerja yang tidak sama satu dan lainnya.
  2. Filosofi bahwa anak lebih suka berkarya atau bekerja daripada bermain. Kata yang digunakan adalah “work” rather than “play”.
  3. Filosofi bahwa dunia Montessori adalah dunia yang rapi teratur, bersih, beres, dan organized.

 

Intinya semua metoda pengajaran yang ada, yang menganggap anak adalah manusia pribadi unik yang perlu dihargai pendapat, cara pandang, cara berpikir dan sumbangsihnya untuk dunia ini. Salah satu materi yang sangat menarik adalah dressing frame. Dressing frames, salah satu materials dari Montessori Method agar anak belajar praktik practical life keseharian berpakaiannya mandiri.

Sekolah Montessori menggunakan materials dengan Metoda Khusus Montessori ini juga dipesan secara khusus dari Itali dengan ketepatan dan presisi yang akurat. Seperti cangkir-cangkir kecil untuk pelajaran Practical Life benar-benar terbuat dari pecah belah, bukannya plastik agar tidak pecah. Penggunaan cangkir dengan material pecah belah ditujukan agar anak setelah menguasai cara memegang cangkir dapat bertanggung jawab dengan ditingkatkan ke dalam level memegang cangkir betulan. Tanggung jawab anak-anak itu usia 3 tahun dalam memegang cangkir pecah belah tercipta.

Cangkir-cangkir tidak pecah, anak-anak bangga dan percaya diri karena guru memberi kepercayaan bahwa “kamu bisa”. “kamu hati-hati” dan “kamu bisa minum” dari cangkir sama seperti orang dewasa. Terpancar wajah cerah anak-anak yang percaya dirinya terasah. “I can!! Saya bisa!!”. Ini metoda yang membuat anak independen, cerdas, percaya diri dan lingkungan tidak mengecilkan mental mereka. Pouring activity atau menuang ke dalam gelas juga merupakan pembelajaran metode Montessori.

Sekolah Montessori benar-benar harus menerapkan metode yang diajarkan oleh Maria Montessori dan tidak boleh asal-asalan. Maria Montessori mengidentifikasikan beberapa tahap perkembangan yang berbeda dan dia percaya setiap orang secara adekuat sebagai orang dewasa mempunyai kepuasan dalam setiap tahap. Berikut ini adalah beberapa tahap yang ditemukan oleh Maria Montessouri:

  1. Selama tahap pertama (masa bayi), anak-anak membutuhkan perasaan nyaman dan hubungan kepuasan dengan Anda sebagai Ibunya atau Ibu pengganti.
  2. Di tahap selanjutnya, dia mulai berkembang secara individual. Dia tetap membutuhkan Ibunya terutama ketika ia mencoba melakukan sesuatu. Sebab ia sering melakukan kesalahan yang dapat menyebabkan dia kehilangan kepercayaan diri dan mulai ragu akan kemampuan dirinya.
  3. Di tahap paling akhir yaitu tahap 3-6 tahun, koresponden menerapkan pikiran yang membuat kepribadian anak-anak menjadi normal.

 

Pepatah mengatakan bahwa “anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik bagi orang tuanya, tetapi mereka dapat menjadi peniru ulung bagi orang tuanya”. Anak-anak belajar melalui melihat apa yang ada dan terjadi di sekitarnya bukan melalui nasihat saja. Beberapa criteria yang harus dimiliki orang tua sebagai model bagi anak-anak mereka:

  1. Sadar bahwa kita menjadi teladan utama anak-anak.
  2. Tunjukkan prioritas nilai melalui kegiatan dan pengalaman harian.
  3. Tunjukkan kita adalah pribadi yang ramah, positif dan terintegrasi.
  4. Hadapi anak dengan penuh penghargaan, cintai mereka dan mengertilah mereka.
  5. Yakinlah akan nilai-nilai yang kita miliki.
  6. Pada pilihan etis, bertanyalah kepada mereka bagaimana sebaiknya harus mengambil pilihan atau keputusan.